Senin, 08 November 2010

perhitungan angka kuman


BAB I
PENDAHULUAN
A.    TINJAUAN PUSTAKA

A.    Perhitungsn angka kuman
Menghitung atau menentukan banyaknya mikroba dalam suatu bahan (makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui jumlah mikroba, maka dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Bahan yang dapat dikatakan baik jika jumlah mikroba yang terkandung dalam bahan tersebut masih di bawah jumlah standar yang ditentukan oleh suatu lambaga. Kandungan mikroba pada suatu bahan juga sangat menentukan tingkat kerusakannya, serta dapat ditentukan oleh tingkat kelayakan untuk dikonsumsi.

Jumlah mikroba dalam suatu  bahan dapat dihitung menggunakan beberapa cara. Namun secara garis besar dibedakan menjadi :
1.      Cara perhitungan langsung
Cara perhitungan langsung berarti kita dapat mengetahui beberapa jumlah mikroba pada saat dilakukan perhitungan. Hasil perhitungan secara langsung menunjukkan seluruh jumlah mikroba yang masih hidup maupun yang sudah mati. Adapun caranya:
a.       Pembuatan preparat sederhana yang diwarnai
b.      Menggunakan ruang hitung
2.      Cara perhitungan tidak langsung
Cara perhitungan tidak langsung, hasil perhitungan jumlah mikroba baru dapat diperoleh kemudian setelah dilakukan perlakuan terlebih dahulu. Hasil perhitungan tidak langsung akan menunjukan jumlah mikroba yang masih hidup saja. Adapun caranya :
a.       Menghitung jumlah total mikroba (Total plate count = angka lempeng total)
b.      Cara pengenceran
c.       Memperkirakan jumlah terkecil mikroba yang ada (MPN = Most Probable Number)
d.      Cara kekeruhan (turbiditas)
            Cara perhitungan tidak langsung dapat digunakan baik untuk bahan padat maupun cair. Khusus untuk bahan padat maka sebelum dilakukan perhitungan bahan itu perlu dilakukan pelarutan atau dibuat suspense, dengan memperhitungkan factor pengencerannya.
Tujuan pengenceran
Menghitung jumlah kuman aerob yang terdapat dalam produk obat, obat tradisional, makanan, kosmetik dan alat kesehatan.
Prinsip pengenceran
Sediaan yang telah dihomogenkan dan diencerkan dengan pengenceran yang sesuai ditanam pada media agar (PCA= plate count agar), setelah inkubasi pada suhu 370c selama 24-48 jam dihitung jumlah koloni yang tumbuh. Satuan perhitungan jumlah mikroba dikenal dengan istilah Colony Forming Units(CFUs) untuk perhitungan bakteri dan kapang/khamir.
Factor pengenceran = pengenceran x jumlah yang ditumbuhkan
Jumlah koloni = jumlah x 1/ factor pengenceran
Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut:
1.      Satu koloni dihitung 1 koloni
2.      Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni
3.      Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni
4.      Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni
5.      Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak dihitung
6.      Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni.
Standar perhitungan
            Cawan yang dipilih adalah yang mengandung jumlah koloni 30-300 koloni, beberapa koloni yang bergabung menjadi satu dihitung sebagai satu koloni, maupun koloni yang seperti sederetan garis tebal. Hasil yang dilaporkan terdiri dari 2 angka, yaitu angka pertama didepan koma dan angka dibelakang koma. Jika angka ketiga lebih besar dari 5 maka harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
234                          28                       1                       2,3x104
700               125                   10                      2,3x105
                jijika semua pengenceran menghasilkan angka kurang dari 30 koloni pada cawan petri maka hanya koloni pada pengenceran terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 koloni dikalikan dengan factor pengenceran tetapi jumlah sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung.
10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
16                                               1                       <3,0 x 103 (1,6 x 103)
            Jika semua pengenceran menghasilkan angka lebih dari 300 koloni pada cawan petri maka hanya koloni pada pengenceran tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 koloni dikalikan dengan factor pengenceran tetapi jumlah sebenarnya harus dicantumkan didalam kurung. Cara perhitungan hanya ¼ bagian saja kemudian hasilnya dikalikan.
10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
TBUD                                          355                    <3,0 x 106  (3,6 x 106)
            Jika semua pengenceran menghasilkan angka antara 30-300 koloni pada cawan petri. Perbandingan dari pengenceran tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran lebih kecil atau sama dengan 2, tentukan rata-rata dari kedua pengenceran tersebut dengan memperhitungkan pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil pengenceran tertinggi dan terendah hasilnya lebih dari 2 maka yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.
10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
293                  41                    4          3,5 x 104
                                                            (rata-rata 1,4 = <2)
140                  32                    2          1,4 x 104
                                                            (rata-rata 2,3= >2)
Perhitungan duplo
            Jika digunakan dua cawan petri (duplo) perpengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu, meskipun salah satu dari cawan duplo tidak memenuhi syarat 30-300 koloni. Berikut contoh duplo :
10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
175                  16                    4                      1,9 x 104
208                  17                    2                      rata-rata pengenceran 10-2

10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
138                  42                    4                      1,5 x 104
162                        43                           2             Rata-rata pengenceran 10-2
                                                                                Karena perbandingan pengenceran
                                                            10-3  dan 10-2 = 2,4

10-2
10-3
10-4
SPC (standar plate count)
290                  36                    4                      3,1 x 104
280                  32                    2          rata-rata pengenceran 10-2
                                                                                Karena perbandingan pengenceran
10-3          dan 10-2 -= 1,2
B.     pewarnaan  Bakteri
            Bakteri adalah mikroba uniseluler bersifat transparan dan tidak berwarna, sehingga sulit dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya, karena tibak mengabsorbsi ataupun membiaskan cahaya. Tehnik pewarnaan merupakan cara yang banyak dipergunakan untuk melihat struktur dan morfologi bakteri.
            Sel bakteri mengandung bermacam-macam senyawa kimia antara lain lipida, asam nukleat dan protein. Zat –zat itu akan bereaksi dengan zat warna asam atau basa dengan hasil kenampakan yang bebeda. Kadang bagian tertentu dari sel bakteri harus diberi penawaran khusus untuk dapat dilihat. Asam nukleat kuman mengandung gugus fosfat bermuatan negative yang dapat mengikat warna basa yang bermuatan positif. Zat warna asam terikat dengan prostoplasma bakteri secara kimia dan zat warna yang digunakan berbentuk garam. Akan tetapi umumnya zat warna digunakan untuk pewarna bakteri adalah zat warna basa seperti : metilen-blue, Kristal-ungu, karbol fuchsin.
            Penggunaan satu macam zat warna untuk pewarna bakteri sering tidak menghasilkan pengamatan yang baik, oleh karena umumnya bakteri diwarnai menggunakan lebih dari satu zat warna. Sebelum diberi zat warna sel bakteri perlu difiksasi yaitu mematikan sel pada preparat ulas tanpa mengakibatkan perubahan bentuk dan struktur yang ada didalam sel. Selain itu dengan fiksasi, maka afinitas sel terhadap zat warna menjadi meningkat sehingga zat warna lebih kuat melekat pada sel.pewarnaan bakteri ada beberapa cara yang dapat dikelompokan :
1.      pewarnaan sederhana
a.       pewarnaan langsung
b.      pewarnaan tidak langsung
2.      pewarnaan diferensial
a.       pewarnaan gram
b.      pewarnaan acid-fast
3.      pewarnaan struktur
a.       pewarnaan endosprora
b.      pewarnaan flagelia
c.       pewarnaan kapsul


C.   MAKSUD dan TUJUAN
Praktikum Mikrobiologi - Virologi kali ini membahas tentang perhitungan angka kuman dan pewarnaan bakteri. Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui jumlah koloni dan membedakan bakteri gam (+) dan gram (-).
 
 

BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM
  1. Praktikum Perhitungan Angka Kuman
Alat dan bahan :
1.      Cawan petri
2.      Tabung reaksi
3.      Pipet volume
4.      Vortex
5.      Lampu Bunsen
6.      Tanah
7.      Aquadest steril
8.      Medium petri PCA
Prosedur praktikum :
1.      Timbang tanah seberat 1 gram
2.      Tanah seberat 1g dimasukkan kedalam aquadest steril 9ml (tabung pengenceran 10-1) secara aseptis dan divortex, lalu ambil 1ml larutan masukkan dalam 9ml aquadest steril (pengenceran 10-2) dan selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat sampai 10-7.
3.      Dari masing-masing 3 pengenceran terakhir (pengenceran 10-5, 10-6, 10-7) diambil 0,1ml untuk ditanam secara spread pleate pada medium petri PCA.
4.      Inkubasi pada suhu 370c selama 24-48 jam.
5.      Koloni akan tumbuh pada ketiga cawan tersebut
6.      Hitung jumlah mikroba pada masing-masing petri tersebut.

  1. Praktikum Pewarnaan Bakteri
Alat dan bahan :
1.      Jarum ose
2.      Objek glass
3.      Lampu Bunsen
4.      Mikroskop
5.      Biakan kuman
6.      Pewarna

Prosedur praktikum :
1.      Buatlah preparat ulas bakteri biakan murni
2.      Teteskan larutan cat utama sebanyak 2 tetes, diamkan 5 menit cuci dengan air mengalir, keringkan
3.      Teteskan lugol (gram B), diamkan 1 menit cuci dengan air mengalir
4.      Cuci dengan  alcohol 96% (gram C) sambil digoyang-goyangkan selama 30 detik atau sampai zat warna luntur mengalir dari preparat
5.      Cuci dengan air mengalir
6.      Preparat diteteskan dengan safranin (gram D) diamkan selama 1-2 menit. Cuci dengan air mengalir keringkan diantara kertas kering atau di udara.
7.      Amati di mikroskop.






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Hasil Praktikum Angka Perhitungan Bakteri
              Tanggal Praktikum    :    02 November 2010
         Tujuan Praktikum     :    untuk mengetahui jumlah koloni
10-5
10-6
10-7
SPC (standar plate count)
14          5                                                    ?
Perhitungan :
Semua pengenceran menghasilkan angka kurang dari 30 koloni.
Jumlah koloni = < 30 x 1/10-5 ( 14 x 1/10-5)
                        = <30 x 101 x 10 5 ( 1,4 x 101 x 105)
                        = <30 x 106  (1,4 x 106 CFUs)
Pembahasan :
Jumlah kuman yang terdapat pada pengenceran 10-5 adalah <30 x 106  (1,4 x 106 CFUs). Pengenceran 10-5 yang dipilih karena hasil pengenceran yang kami dapat menghasilkan angka kurang dari 30 koloni. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan isolasi tindakan yang dilakukan kurang aseptis dan alat-alat yang digunakan kurang steril dan jumlah bakteri terdapat pada sampel tanah yang kami ambil juga sedikit sehingga jumlah yang kami hitung dalam perhitungan kuman juga kecil jumlahnya.
Prinsip dari pemeriksaan ini menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada Plate Count Agar. Hitung angka kuman dilakukan pengenceran bertingkat bertujuan agar koloni tiap plate dapat dihitung. Tahap akhir, jumlah koloni dari tiap plate dikali dengan pengenceran dan dicari rata-rata dari semua plate. Nilai yang didapat adalah Jumlah Angka Kuman dari Sampel yang di Periksa.
Perhitungan
Angka Kuman : Σ (Jumlah koloni - Jumlah koloni control) X pengenceran /Banyak plate

Gambar :
http://3.bp.blogspot.com/_DAyHS4hRf50/TLj7e6ct5HI/AAAAAAAAAVo/qCdr2hTszIg/s320/Picture+300.jpg
Angka Kuman Staphylococcus aureus
Pemeriksaan Angka kuman Staphylococcus aureus sama dengan Hitung Angka Kuman. Hitung angka kuman semua bakteri yang tumbuh pada plate dihitung.
sementara Hitung Angka Kuman Staphylococcus aureus jenis bakteri spesifik untuk bakteri S. aureus. Media agar yang digunakan berbeda(menggunakan Baird Parker) dengan Hitung Angka Kuman sehingga bakteri jenis lain dapat ditekan pertumbuhanya.
Perhitungan :
Angka kuman S . aureus = Banyak koloni X pengenceran X penipisan
Gambar :
http://3.bp.blogspot.com/_DAyHS4hRf50/TLj7evUiSJI/AAAAAAAAAVg/dDcXGmH848o/s320/Picture+321.jpg
Perhitungan Bakteri
Pada pemeriksaan suatu produk, jumlah bakteri akan menggambarkan mutu bahan baku, proses pembuatan dan tingkat kerusakan suatu bahan mekanan. Metode perhitungan sangat banyak, hanya biasanya metode yang dipilih adalah disesuaikan dengan kepentingan pemeriksaan, kecepatan dan ketepatan hasil pemeriksaan. Metode perhitungan itu adalah:
(1) metode hitung bakteri, metode ini dapat dikerjakan tergantung dari jumlah bakteri yang hidup dengan aktifitas metabolisme
(a) angka lempengan total,
(b) pengenceran, Most Probable Number (MPN)
(c) aktifitas metabolik.
(2) Metode total bakteri hidup dan bakteri mati meliputi
(a) berat kering bakteri,
(b) kekeruhan, berdasarkan jumlah sinar yang diserap pada panjang gelombang
     tertentu, 
 (c) hitung partikel elektronik,
(d) hitung dengan mikroskop langsung,
(e) Volume sel.
Dari sejumlah metode di atas beberapa saja yang sering digunakan untuk pemeriksaan rutin yaitu;
(1) angka lempeng total ”Pour Plate” digunakan untuk menghitung bakteri dengan ketentuan yaitu :
(a) satu koloni bakteri dihitung satu sel bakteri hidup,
(b) satu sel hidup dari sampel akan mampu membentuk koloni bakteri dalam lempeng petri dish,
(c) dihitung jumlah koloni antar 30-300 koloni. Apabila kurang maka dihitung jumlah koloni yang ada, sedang apabila lebih dari 300 maka perlu dilakukan pengenceran.
 (2) penghitungan bakteri dengan bakteri ”Spread Plate”, prinsip hitung bakteri dengan metode ini adalah meratakan bakteri yang terdapat di dalam sampel dengan volume tertentu di atas permukaan media yang sesuai.
 (3) Most Probable Number (MPN), adalah perhitungan bakteri dengan cara menggunakan variasi jumlah tabung yang sudah ada di dalam standard.
Slide spesial-counting Chambers sebagaimana penghitung bakteri Petroff-Hausser juga digunakan untuk membuat perhitungan langsung. Perhitungan bakteri ditempatkan pada sebuah jalur ruangan, dimensi dari yang kita tahu, dan dibungkus dengan yang kecil. Pengujian dapat di buat dengan lebih banyak kepuasan dengan lapangan-gelap atau fase mikroskopis, jika sel tidak ditandai dan karena itu tidak terlalu mencolok oleh pengujian terang-lapang. Sejak counting cahmber diputuskan mati di dalam area yang pasti dan sejak kedalaman dari perhitungan pada ruangan diperhitungkan di ketahui, berarti bahwa di atas volume lain daerah yang diatus dapat dijumlahkan. Semuanya adalah dibutuhkan, oleh karena itu, apakah dijumlahkan nomor dari organisme di beberapa area, rata-rata mendapatkan bilangan untuk menghitung per area, dan juga mengalikan rata-rata ini oleh sebuah faktor yang tepat memasukkan penjumlahan ke nomor bakteri per millimeter.
  • Hasil Praktikum Pewarnaan  Bakteri
              Tanggal Praktikum    :    02 November 2010
         Tujuan Praktikum     :    membedakan bakteri Gram (+) dan Gram (-)
Pengamatan
Gram positif
Gram negatif
Nama Bakteri
Stophylococcus aureus
Pseudomonas auriginosa
Bentuk sel
Bulat bergerumul (anggur)
Batang, banyak falgel (rambut)
Warna sel
Warna ungu
Warna merah

Pembahasan :
              Pada saat pewarnaan gram positif jika ditambahkan gram A (Kristal violet) akan berwarna ungu. Begitu pula dengan gram negative pada saat ditambahkan gram B (iodine) sama halnya dengan penambahan gram A. Bakteri akan berwarna ungu. Namun, ketika ditambahkan gram C (alcohol-aceton) gram positif tetap berwarna ungu, sedangkan gram negative warna ungunya melarut dan setelah dicuci dengan aquadest warna ungunya menghilang.
              Hal ini menandakan bahwa pada gram positif kandungan peptidoglikannya lebih banyak sedangkan lipidnya lebih sedikit. Sehingga lipid yang larut tidak berpengaruh pada warna yang menempel pada bakteri. Sedangkan pada gram negative kandungan lipidnya yang  lebih banyak ikut hilang. Oleh karena itu ketika penambahan gram D (safranin) dilakukan pada gram positif tetap berwarna ungu, sedangkan pada gram negative berwarna merah karena safranin berwarna merah.
Proses pewarnaan diferensial ini memerlukan 4 jenis reagen. Bakteri terbagi atas dua kelompok berdasarkan pewarnaan ini, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Perbedaan ini berdasarkan warna yang dapat dipertahankan bakteri. Reagen pertama disebut warna dasar, berupa pewarna basa, jadi pewarna ini akan mewarnai dengan jelas. Reagen kedua disebut bahan pencuci warna (decolorizing agent). Tercuci tidaknya warna dasar tergantung pada komposisi dinding sel, bilakomponen dinding sel kuat mengikat warna, maka warna tidak akan tercuci sedangkan bila komponen dinding sel tidak kuat menelan warna dasar, maka warna akan tercuci. Reagen terakhir adalah warna pembanding, bila warna tidak tercuci maka warna pembanding akan terlihat, yang terlihat pada hasil akhir tetap warna dasar.
               Bakteri hidup sulit untuk dilihat dengan mikroskop cahaya terang biasa karena bakteri itu tampak tidak berwarna jika diamati secara sendiri, walaupun biakannya secara keseluruhan mungkin berwarna. Bakteri sering diamati dalam keadaan olesan terwarnai daripada dalam keadaan hidup. Yang dimaksud dengan bakteri terwarnai adalah oganisme yang telah diwarnai dengan zat pewarna kimia agar mudah dilihat dan dipelajari.
Sel-sel mikroorganisme yang tidak diwarnai umumnya tampak hampir tembus pandang (transparan) bila diamati dengan mikroskop cahaya biasa hingga sukar dilihat karena sitoplasma selnya mempunyai indeks bias yang hampir sama dengan indeks bias lingkungannya yang bersifat cair. Kontras antara sel dan latar belakangnya dapat dipertajam dengan cara mewarnai sel-sel tersebut dengan zat-zat warna.
Pada umumnya, olesan bakteri terwarnai mengungkapkan ukuran, bentuk, susunan dan adanya struktur internal seperti spora dan butiran zat pewarna khusus diperlukan untuk melihat bentuk kapsul ataupun flagella, dan hal-hal terperinci tertentu di dalam sel. Zat pewarna adalah garam yang terdiri atas ion positif dan ion negatif, yang salah satu diantaranya berwarna.
Sel bakteri dapat teramati dengan jelas jika digunakan mikroskop dengan perbesaran 100x10 yang ditambah minyak imersi. Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan, sel bakteri sulit terlihat. Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. Zat warna dapat mengabsorbsi dan membiaskan cahaya, sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya ditingkatka. Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa, bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna memiliki muatan negatif. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet, Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin, Malachite Green dll. Sedangkan zat warna basa antara lain Eosin, Congo Red.
Banyak senyawa organik berwarna (zat warna) digunakan untuk mewarnai mikroorganisme untuk pemeriksaan mikroskopik dan telah dikembangkan prosedur pewarnaan untuk :
- Mengamati dengan baik morfologi mikroorganisme secara kasar.
- Mengidentifikasi bagian-bagian struktural sel mikroorganisme.
- Membantu mengidentifikasi atau membedakan organisme yang serupa.
Langkah-langkah utama dalam persiapan spesimen mikroba untuk pemeriksaan mikroskopik adalah  :
- Penempatan olesan atau lapisan spesimen pada kaca objek.
- Fiksasi olesan pada kaca objek.
- Aplikasi pewarna tunggal (pewarnaan sederhana) atau serangkaian larutan pewarna atau reagen (pewarnaan diferensial.
Pewarnaan atau pengecatan terhadap mikroba, banyak dilakukan baik secara langsung (bersama bahan yang ada) ataupun secara tidak langsung (melalui biakan murni).

 Tujuan dari pewarnaan tersebut adalah :
 - Mempermudah melihat bentuk jasad baik bakteri, ragi ataupun fungi.
- Memperjelas ukuran dan bentuk jasad
- Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan juga struktur dalam jasad.
- Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat fisik dan kimia yang ada akan dapat diketahui.
Pewarna yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus yang akan memberikan reaksi kalu mengenai bagian tubuh jasad. Karena pewarnaan tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif ataupun negative. Sel bakteri bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH mendekati netral. Sehingga kalau kita memberikan pewarnaan yang bermuatan positif ataupun negative).
Pewarnaan Sederhana (Pewarnaan Positif). Sebelum dilakukan pewarnaan dibuat ulasan bakteri di atas object glass yang kemudian difiksasi. Jangan menggunakan suspensi bakteri yang terlalu padat, tapi jika suspensi bakteri terlalu encer, maka akan diperoleh kesulitan saat mencari bakteri dengan mikroskop. Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri dan melekatkan sel bakteri pada object glass tanpa merusak struktur.
Pewarnaan Negatif. Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan zat warna basa. Tapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif. Zat warna tidak akan mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga sel tampak transparan dengan latar belakang hitam. Setelah dilihat di mikroskop, maka akan tampak bentuk sel bakteri. Berikut merupakan berbagai bentuk sel bakteri.
Pewarnaan Gram adalah pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan baktri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pewarnaan gram adalah sebagai berikut
a. Fase yang paling kritis dari prosedur di atas adalah tahap dekolorisasi yang mengakibatkan CV-iodine lepas dari sel. Pemberian ethanol jangan sampai berlebih yang akan menyebabkan overdecolorization sehingga sel gram positif tampak seperti gram negatif. Namun juga jangan sampai terlalu sedikit dalam penetesan etanol (underdecolorization) yang tidak akan melarutkan CV-iodine secara sempurna sehingga sel gram negatif seperti gram positif.

b. Preparasi pewarnaan gram terbaik adalah menggunakan kultur muda yang tidak lebih lama dari 24 jam. Umur kultur akan berpengaruh pada kemampuan sel menyerap warna utama (CV), khususnya pada gram positif. Mungkin akan menampakkan gram variabel yaitu satu jenis sel, sebagian berwarna ungu dan sebagian merah karena pengaruh umur. Walaupun ada beberapa species yang memang bersifat gram variabel seperti pada genus Acinetobacter dan Arthrobacter.
Pewarnaan Endospora. Anggota dari genus Clostridium, Desulfomaculatum dan Bacillus adalah bakteri yang memproduksi endospora dalam siklus hidupnya. Endospora merupakan bentuk dorman dari sel vegetatif, sehingga metabolismenya bersifat inaktif dan mampu bertahan dalam tekanan fisik dan kimia seperti panas, kering, dingin, radiasi dan bahan kimia. Tujuan dilakukannya pewarnaan endospora adalah membedakan endospora dengan sel vegetatif, sehingga pembedaannya tampak jelas.
Endospora tetap dapat dilihat di bawah mikroskop meskipun tanpa pewarnaan dan tampak sebagai bulatan transparan dan sangat refraktil. Namun jika dengan pewarnaan sederhana, endospora sulit dibedakan dengan badan inklusi (kedua-duanya transparan, sel vegetatif berwarna), sehingga diperlukan teknik pewarnaan endospora. Berikut merupakan beberapa tipe endospora dan contohnya.



BAB IV
KESIMPULAN
  • Jumlah kuman perhitungan kuman yang didapat tergantung pada jumlah bakteri yang terdapat saat pengenceran.
  • Pewarnaan bakteri dilakukan dengan tujuan untuk melihat struktur dan morfologi bakteri, karena maerupakan mikroba uniseluler yang bersifat transparan atau tidak berwarna.
  • Pada saat pewarnaan gram, bakteri gram posif berwarna ungu dan gram negative berwarna merah. Halini berkaitan dengan kandungan peptidoglikan dan lipid yang berbeda. Pada gram positif, kandungan peptidoglikan lebih banyak dan kandungan lipidnya sedikit. Sedangkan gram negative sebaliknya.                                                                                   

 
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A. Dan Reece, J. B., 2005. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Hadioetomo, R, S., 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.
Irawan, 2008. Teknik Pewarnaan Mikroba. http://wordbiology.wordpress.com.
Pelczar, M. W., 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. UI Press. Jakarta.
Suriawiria, U., 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.
Volk, W. A. dan Margareth F. W., 1998. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Jakarta : Erlangga.

2 komentar:

  1. maap teteh mahasiswa mana ya?
    boleh izin laporannya sebagai refrensi saya?

    BalasHapus
  2. klu bole tau ,untuk standar perhitungan bakteri dari buku apa y?. maksih

    BalasHapus